Antara Garam Lokal dan Garam Impor

Saya jarang nonton TV durasi sehari bisa 1 jam saja untuk TV, tetapi ada kata yang sering sekali terdengar akhir2 ini. Kata itu adalah ‘impor’, mulai dari narkoba, daging, beras, terakhir bawang putih, dan baru saja saya baca adalah ‘garam impor’.

Kantor tempat saya bekerja, pernah menugaskan saya di daerah Jeneponto, Sulawesi Selatan. sebuah kabupaten penghasil garam, sepanjang jalan trans kabupaten tiap pagi saya melihat hamparan pematang garam. Sungguh indah tertata rapi, sayang saat itu tidak terpikirkan untuk mengambil gambarnya, karena saya pikir ini pemandangan biasa, hampir tiap pagi dan sore terlihat. Tapi ini ada beberapa foto di Jeneponto, yang saya ambil dari sini

http://www.bisnis-kti.com/index.php/2011/08/foto-berita-anggaran-rp17-miliar-untuk-kelompok-usaha-tani/

catshttp://www.bisnis-kti.com/index.php/2012/09/garam-wow-garam-jeneponto-masuk-daftar-komoditas-ekspor/

medium_111011-PTB-BISNIS01GARAM3

Sumpah baru saja saya tahu ternyata garam juga mesti diimpor, hadeuh. Apa yang aneh, saat ini oleh Kantor saya, ditugaskan di kabupaten yang memproduksi garam, sama halnya kabupaten yang saya ceritakan diatas, tepatnya di daerah Losarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Berita di koran lokal yang saya baca pagi ini, hampir sama dengan berita2 impor lainnya, petani lokal menjerit, stagnan, garam mengendap p-lus berbagai masalah sosial lainnya.

Sebenarnya apa seh bedanya garam impor dan lokal:

saya masih browsing dulu….

Pertanyaan besar dikepalaku, Garam itu berlimpah, kenapa mesti impor?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: